Sabtu, 03 November 2012

CARA KERJA ILMU; ipa, sos-hum, agama


Sejarah peradaban manusia yang terbentang panjang sejak zaman klasik hingga zaman kontemporer yang begitu canggih dan serba digital seperti sekarang ini tentu tidak dilahirkan secara kebetulan. Peradaban tersebut dibangun dengan kompleksitas perkembangan ilmu pengetahuan—baik alam, sosial, dan agama—yang dialektis dan konstruktif satu sama lain yang berlangsung secara evolutif.
Ilmu merupakan salah satu hasil dari usaha manusia memperadab dirinya. Perkembangan ilmu dari zaman klasik hingga zaman kontemporer ini merupakan jawaban atas rasa keingintahuan manusia untuk mengetahui suatu kebenaran. Jadi, dengan rasa keingintahuan tersebut manusia akhirnya mampu menggunakan potensi intelektualnya untuk melakukan kreatifitas yang menjadi kunci utama lahir dan berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai pintu peradaban.
Secara historis, ilmu pengetahuan yang saat ini berkembang begitu pesat, merupakan buah dari pohon filsafat karena pada awalnya filsafatlah yang melakukan pembahasan tentang segala yang ada secara sistematis, rasional dan intergratif.
Berdasarkan sejarah kelahirannya, filsafat mula-mula berfungsi sebagai induk ilmu pengetahuan. Sebelum ilmu pengetahuan lain, filsafat harus menjawab segala macam persoalan tentang manusia, masyarakat, sosial ekonomi, Negara, kesehatan, dan lain sebagainya. Karena perkembangan keadaan dan masyarakat, banyak problem yang kemudian tidak dapat dijawab oleh filsafat. Lahirlah ilmu pengetahuan yang sanggup memberi jawaban terhadap problem-problem tersebut, misalnya ilmu pengetahuan alam, ilmu kedokteran, ilmu kemasyarakatan, ilmu keagamaan, dan lain sebagainya. Ilmu pengetahuan tersebut lalu terpecah-pecah lagi menjadi yang lebih khusus. Demikianlah kemudian lahir berbagai disiplin ilmu yang sangat banyak dengan kekhususan masing-masing.
Dalam ini, sebelum saya menjelaskan bagaimana cara kerja ilmu ipa, soshum, dan agama, saya akan membahas terlebih dahulu :
1.      Apa yang dimaksud Ilmu Pengetahuan ?
2.      Apa obyek Ilmu Pengetahuan ?
3.      Bagaimana cara kerja Ilmu Pengetahuan; Ipa, Soshum, Agama ?

A.    ILMU PENGETAHUAN
Ilmu adalah pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan adalah imu. Ilmu adalah akumulasi atau proses pengumpulan pengetahuan yang menjelaskan kausalitas (hubungan sebab-akibat) dari suatu obyek menurut metode-metode tertentu yang merupakan suatu kesatuan sistematis.
Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.
Sedangkan pengetahuan adalah pembentukan pemikiran asosiatif yang menghubungkan atau menjalin sebuah pikiran dengan kenyataan atau dengan pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang tanpa pemahaman mengenai kausalitas yang hakiki dan universal.[1]
Dari kedua pengertian tersebut jelas bahwa pengetahuan bukan hanya ilmu. Pengetahuan merupakan bahan utama bagi suatu ilmu. Selain itu, pengetahuan tidak menjawab pertanyaan dari adanya kenyataan itu, sebagaimana dapat dijawab oleh ilmu. Dengan kata lain, pengetahuan baru dapat menjawab tentang apa, sedangkan ilmu dapat menjawab pertanyaan tentang mengapa dari kenyataan atau kejadian.
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sempurna, yaitu dilengkapi dengan seperangkat akal dan pikiran. Dengan akal dan pikiran inilah, manusia mendapatkan ilmu. Akal dan pikiran memproses setiap pengetahuan yang diserap oleh indera-indera yang dimiliki manusia. Segala yang ditangkap melalui indera dimasukkan kedalam pikiran dan perasaan manusia. Dengan segala keyakinan atau kepercayaannya ditariklah kesimpulan-kesimpulan yang benar. Kesimpulan yang benar ini akan merupakan pengetahuan yang diuji secara sistematis dan metodis hingga menjadi ilmu.
B.     OBYEK ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bertujuan mencapai kebenaran ilmiah tentang obyek tertentu, yang diperoleh melalui pendekatan atau cara pandang (approach), metode(method), dan sistem tertentu. Jadi pengetahuan yang benar tentang obyek itu tidak bisa dicapai secara langsung dan sifat daripadanya adalah khusus.[2]
Obyek ilmu pengetahuan itu ada yang berupa materi (obyek materi) dan ada yang berupa bentuk (obyek forma). Obyek materi adalah sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran, atau penelitian keilmuan, bisa berupa benda-benda material maupun non material, bisa pula berupa hal-hal, masalah-masalah, ide-ide, konsep-konsep. Obyek materi tidak terbatas pada apakah ada dalam relitas kongkrit atau dalam realitas abstrak. Obyek materi, yang material maupun non-material, sebenarnya merupakan suatu subtansi yang tidak begitu saja dengan mudah diketahui, lebih-lebih non-material, sedang yang materialpun sebagai suatu subtansi mempunyai segi yang sulit dihitung dan ditentukan jumlahnya.
Kenyataan ini mempersulit usaha untuk memahami maknanya. Oleh karena itu, dalam rangka mengetahui maknanya, orang lalu melakukan pendekatan-pendekatan secara cermat dan bertahap menurut segi-segi yang dimiliki obyek materi itu, dan tentu saja menurut kemampuan seseorang. Cara pendekatan inilah yang kemudian dikenal sebagai ‘obyek forma’ atau cara pandang. Cara pandang ini berkonsentrasi pada satu segi saja, sehingga menurut segi yang satu ini kemudian tergambarlah lingkup suatu pengetahuan mengenai sesuatu hal menurut segi tertentu. Dengan kata lain, ‘tujuan’ pengetahuan sudah ditentukan. Manusia sebagai obyek materi, dari segi kejiwaan, keragaan, keindividuan, kesosialan, dan dari segi dirinya sebagai makhluk Tuhan, masing-masing menentukan lingkup dan wawasannya sendiri-sendiri yang berbeda. Oleh sebab itu wajarlah jika pengetahuan yang diperoleh tentang manusia juga berlainan.
Bagi ilmu pengetahuan, perbedaan pengetahuan yang dihasilkan oleh masing-masing segi itu justru harus seperti itu, karena dengan demikian pegetahuan tentang manusia tadi bisa semakin lengkap dan jelas.
Menurut obyek formanya, ilmu pengetahuan itu berbeda-beda dan banyak jenis serta sifatnya. Ada yang tergolong ilmu pengetahuan fisis (ilmu pengetahuan alam), ilmu pengetahuan non-fisis (ilmu sosial humaniora serta ilmu pengetahuan ketuhanan) karena pendekatannya menurut segi kejiwaan. Ilmu pengetahuan fisis termasuk ilmu pengetahuan ilmu pengetahuan yang bersifat kuantitatif, sementara ilmu pengetahuan non-fisis merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat kualitatif.
C.    CARA KERJA ILMU PENGETAHUAN
Perkembangan ilmu selalu mengiringi tingkat kebutuhan manusia dari yang bersifat material, teknis, kemanusiaan, kemasyarakatan, sampai yang bersifat spiritual dan religious. Keberagaman kebutuhan hidup manusia menyebabkan berkembangnya berbagai disiplin ilmu, yakni ilmu alam, ilmu sosial humaniora, dan ilmu agama. Jenis ilmu alam, seperti fisika, biologi, kimia, matematika, geologi, geografi, dan lain sebagainya lahir untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik, material, dan mekanisme teknis dari manusia terhadap alam. Ilmu sosial humaniora, seperti filsafat, sejarah sosiologi, antropologi, dan psikologi lahir untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang lebih bersifat non-material dan bermuatan nilai, baik kepribadian maupun hubungan-hubungan social, karena menyangkut makna hidup, dan hubungan antar sesama manusia. Ilmu agama berkembang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan moral dan spiritual-religius agama.
1.      Cara Kerja Ilmu Alam
Pada masa Yunani kuno, sebelum filsafat muncul sebagai tradisi keilmuan baru, ilmu fisika, matematika, kimia, dan astronomi telah lama menjadi perbincangan di antara pecinta ilmu. Ilmu mempunyai manfaat langsung bagi manusia, karena mudah diukur dan di amati, secara praktis dapat dirasakan. Ilmu-ilmu alam yang sifatnya fisikal dan material sangat penting bagi hidup manusia terutama untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan material dan praktis manusia.
Mohammad Hatta menyatakan bahwa ilmu pengetahuan itu lahir karena manusia dihadapkan pada dua masalah yaitu alam luaran (kosmos) dan soal sikap hidup (etik). Ilmu-ilmu  alam senantiasa memandang alam dari satu jurusan melalui ukuran atau metode dan saran tertentu dan peninjauan tertentu pula. Ilmu alam mencari keterangan mengenai alam yang bertubuh atau benda-benda di alam yang dapat diketahui dengan pancaindera.[3]
Ilmu-ilmu alam berhubungan dengan gejala-gejala alam yang sifatnya fisik, teramati, dan terukur. Gejala-gejala alam memiliki sifat fisikal dan statis dari waktu ke waktu. Makna statis karena jumlah variable dari gejala alam sebagai objek yang diamati juga relative lebih sederhana dan sedikit. Misalnya, ketika ahli ilmu alam ingin menjelaskan suatu eksplosi kimiawi, dia hanya perlu mempelajari sifat-sifat bahan kimiawi yang mudah meledak dan mudah diamati. Jadi faktornya sederhana untuk dapat menjelaskan eksplosi kimiawi.
Objek penelitian dalam ilmu-ilmu alam tidak mengalami perubahan atau tetap. Sifat ini menunjukkan bahwa objek penelitian dalam ilmu-ilmu alam dapat diamati secara berulang-ulang oleh peneliti atau pengamat. Misalnya seseorang yang mengamati benda jatuh ke bumi, variabel-variabel yang dipakai dalam eksperimen untuk menguji penemuan gravitasi adalah sama, baik ketika zaman Newton (abad ke-17) maupun abad ke-21 saat ini.
Pengamatan dalam ilmu-ilmu alam lebih mudah karena dapat dilakukan secara langsung dan dapat diulang kapanpun. Kata mengamati dalam ilmu alam tentu lebih luas dari sekedar interaksi langsung dengan pancaindera manusia, yang lingkup kemampuannya sangat terbatas. Keterbatasan ini dapat diatasi manusia dengan menggunakan alat-alat bantu seperti mikroskop, teleskop, alat perekam gelombang, dan lain sebagainya.
Prinsip pengamatan atau penelitian dalam ilmu-ilmu alam adalah objektif, artinya kebenarannya disimpulkan berdasarkan obyek yang diamati.  Sisi dominan pengamatan dalam ilmu-ilmu alam lebih sebagai penonton, maka tujuan aktifitas pengamatan hanya menjelaskan obyeknya menurut penyebabnya, yang dalam istilah Wilhelm Dilthey (1833-1911) disebut erklaren (penjelasan). Dalam erklaren ini, pengalam dan teori dapat dipisahkan, artinya ada suatu jarak antara pengamat dan yang diamati, pengamat tidak terlibat dalam objek yang diamai, tugasnya hanya menjelaskan hasil pengamatannya.[4]
Ilmu-ilmu alam lebih menarik untuk diteliti bukan hanya karena gejala alam membangun berbagai teori, tetapi karena gejala-gejala alam yang diketahui dan dirumuskan dalam teori-teori itu dapat digunakan untuk memprediksi kejadian-kejadian yang dimungkinkan akan timbul dari gejala-gejala tersebut. Misalnya dari pengalaman hidupnya, manusia mempelajari tekstur lempengan-lempengan dalam bumi, termasuk gerak-gerak dan karakternya serta sebab-sebab terjadinya gerakan itu. Pengamatan tersebut dapat menjelaskan semacam keajekan bahwa setiap sekian ratus tahun terjadi patahan-patahan dari lempeng-lempeng bumi tersebut, dan pengetahuan ini dapat dijadikan acuan prediksi, misalnya, jika terjadi didasar lautan maka akan menimbulkan gelombang laut yang sangat besar atau yang lebih popular disebut dengan gelombang tsunami.
2.      Cara Kerja Ilmu Sosial-Humaniora
Perkembangan ilmu-ilmu sosial-humaniora tidak sepesat perkembangan ilmu-ilmu alam. Hal ini dikarenakan objek kajian ilmu-ilmu sosial-humaniora tidak sekedar sebatas fisik dan material tetapi bersifat lebih kompleks. Selain itu, dibandingkan ilmu-ilmu alam, nilai manfaat ilmu-ilmu sosial-humaniora tidak dapat langsung dirasakan karena harus berproses dalam wacana yang panjang.
Manusia membutuhkan ilmu-ilmu sosial-humaniora untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tidak fisikal dan material, melainkan bersifat abstrak dan psikologis. Misalnya, penemuan konsep keadilan membawa manusia untuk mengatur perilaku sosialnya atas dasar konsep tersebut. Konsep kemanusiaan membawa manusia kepada sikap tidak diskriminatif atas orang lain meskipun berbeda suku, agama, ras, budaya, dan warna kulit.
Gejala-gejala yang diamati dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora memiliki keunikan-keunikan dan kemungkinan bergerak dan berubahnya sangat besar, karena mereka tidak stagnan dan tidak statis, tetapi mereka hidup dan bergerak secara dinamis. Objek studi ilmu-ilmu soasial-humaniora adalah manusia, terutama pada aspek dalam (inner world-nya) atau apa yang ada dibalik manusia secara fisik, seperti mental life, mind-affected world, inner-side. Kuntowijoyo dalam ermi suhasti mengatakan bahwa manusia memiliki free will dan kesadaran, karena itulah, ia bukan benda yang ditentukan menurut hukum-hukum yang baku sebagaimana benda-benda mati lainnya yang tidak memiliki kesadaran apalagi kebebasan kehendak. Benda mati dapat dikontrol dan dikendalikan secara pasti, tetapi manusia tidak dapat di kontrol dan dikendalikan, tetapi dapat dikendalikan orang lain dan dapat juga mengendalikan orang lain.
Gejala-gejala sosial-humaniora cenderung tidak dapat ditelaah secara berulang-ulang, karena gejala-gejala tersebut bergerak seiring dengan dinamika konteks historisnya. Ilmu-ilmu sosial-humaniora hanya memahami, memaknai dan menafsirkan gejala-gejala sosial-humaniora, bukan menemukan dan menerangkan secara pasti. Pemahaman, pemaknaan, dan penafsiran ini lebih besar menghasilkan kesimpulan yang berbeda, bahkan menghasilkan kesimpulan yang bertentangan.[5]
Subyek pengamat dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora jelas jauh berbeda dengan ilmu-ilmu alam. Dalam ilmu-ilmu alam, subyek pengamat dapat mengambil jarak dan fokus pada obyektifitas yang diamati. Namun dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora subyek pengamat terlibat baik secara emosional maupun rasional dalam dan merupakan bagian integral dari obyek yang diamatinya. Manusia dapat mengamati benda-benda fisik seperti gerak-gerik angin tanpa terlibat secara pribadi, tetapi manusia  tidak mungkin mengamati manusia lain tanpa melibatkan minatnya, nilai-nilai hidupnya, kegemarannya, motifnya, dan tujuan pengamatannya yang juga akan mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan dalam mempelajari gejala-gejala sosial-humaniora.
Wilhelm Dilthey dalam ermi suhasti mengatakan bahwa ilmu-ilmu alam menggunakan erklaren (penjelasan), sedang pengamatan dalam ilmu-ilmu social-humaniora memakai verstehen (pemahaman). Verstehen atau memaknai memegang prinsip mengungkapkan makna tidak sekedar menjelaskan. Di dalamnya terkandung prinsip bahwa pengalaman dan pemahaman teoritis tidak terpisahkan dan justru dipadukan.[6]
Suatu teori sosial-humaniora tidak mudah untuk memprediksi kejadian sosial-humaniora berikutnya, dikarenakan pqola perilaku sosial-humaniora yang sama belum tentu akan mengakibatkan kejadian yang sama, dan pola perilaku sosial-humaniora selalu mengalami dinamika perubahan dan perkembangan. Hal ini tidak berarti hasil temuan dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora tidak dapat dipakai sama sekali untuk meramalkan kejadian-kejadian sosial lain.
3.      Cara Kerja Ilmu Agama
Ilmu-ilmu keagamaan adalah suatu disiplin ilmu yang yang penting dalam kehidupan manusia. Ilmu ini berkembang sejak manusia dihadapkan pada kekuatan-kekuatan adikodrati. Mereka membangun ritual keagamaan sebagai symbol pemahaman tentang hidup dan realitas hubungan manusia dengan alam dan adikodrati.
Gejala keagamaan merupakan sesuatu yang bergerak, tidak statis, jadi lebih dekat dengan gejala social-humaniora. Gejala keagamaan ini mengindikasikan suatu dinamika keimanan sebagai hasil dari pengalaman dan pemahaman atas teks-teks suci keagamaan yang diyakini
Obyek kajian ilmu-ilmu keagamaan adalah manusia yang beragama dan lebih fokus pada inner-worldnya, yakni aspek keimanan teologisnya, seperti paham ketuhanannya dan implikasinya pada perilaku social-kemanusiaannya, dan pemahaman keagamaan yang dibangun oleh manusia beragama. Ilmu-ilmu agama memandang manusia pada aspek religiusitasnya.
Obyek penelitian ilmu-ilmu keagamaan bersifat tidak dapat diulang-ulang, karena kejadian keagamaan sebagaimana tercermin dalam perilaku keagamaan orang beragama atau masyarakat beragama pada kurun waktu dan tempat tertentu tidak mungkin dapat direkontruksi orang sesudahnya seperti pada masa awalnya.
Pengamatan dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora, sulit dan kompleks, karena melihat dan memaknai apa yang ada di balik kegiatan dan perilaku fisik dan empiris manusia beragama. Kegiatan dan perilaku fisik dan empiris manusia beragama adalah bentuk ekspresif dari keimanan mereka pada Tuhan sebagai hasil pemahaman mereka terhadap teks-teks suci yang diyakini.
Pengamat atau peneliti dalam ilmu-ilmu keagamaan tidak dapat dilepaskan dan merupakan bagian integral dari obyek yang diamati, yaitu perilaku sosial-humaniora manusia beragama atau aktifitas-aktifitas keagamaan. Dalam mengkaji teks-teks suci keagamaan atau teks-teks keagamaan hasil interpretasi atas teks-teks suci, seorang pengamat pasti terlibat secara emosional dan rasional dalam memahami dan menyimpulkan makna mereka.
Suatu teori sebagai hasil pengamatan terhadap aktifitas-aktifitas kegamaan tidak mudah meramal aktifitas-aktifitas keagamaan lainnya yang akan terjadi. Hal ini karena pola-pola perilaku keagamaan yang sama belum tentu akan mengakibatkan kejadian-kejadian berikutnya yang sama.
Kerja ilmu-ilmu keislaman bersumber pada teks-teks suci, yakni Al-Qur’an dan Hadis Nabi, dan sumber penalaran rasional dan pengalaman empiris keislaman. Keterkaitan sumber-sumber studi Islam tersebut telah melahirkan banyak disiplin ilmu dalam Islam, seperti Studi Al-Qur’an dan teori pemahaman Hadis, fiqh dan ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf, ilmu akhlaq atau etika dalam Islam, politik Islam, ekonomi Islam, sosiologi Islam, dan seterusnya mengikuti perkembangan ilmu-ilmu.
Prinsip kerja ilmu-ilmu keIslaman mengikuti sebagaimana cara kerja ilmu-ilmu keagamaan, yakni mempertimbangkan gejala-gejala keIslaman yang tercermin dalam karya-karya keIslaman dan perilaku dan aktifitas keagamaan Islam dari para penganutnya dengan disertai dengan penginterpretasian ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi, karena karya dan aktifitas tersebut selalu merupakan ekspresi keberagaman Islam.
Dalam kata studi Islam terkandung persoalan bagaimana Islam memahami dan memegangi realitas kehidupan dengan berbagai ragamnya. Maksudnya hubungan antara manusia, alam, dan tuha melahirkan berbagai realitas yang semakin beragam, yaitu social, politik, budaya, pendidikan, hokum, HAM, ekologi, spiritualitas, dan lain sebagainya.
Persoalannya adalah bagaimana sesungguhnya pandangan dunia Islam tentang kehidupan ini secara umum, jawabannya bukan hanya dengan fiqh saja, dengan tafsir Al-Qur’an, dengan tasawuf, dengan ilmu kalam, dengan politik Islam saja dan seterusnya, melainkan dengan semua disiplin ilmu keIslaman yang tela ada dan dimungkinkan ada. Hal ini berarti bahwa harus ada interkoneksi dan interkomunikasi antara disiplin-disiplin keilmuan Islam.

A.    KESIMPULAN

Ilmu adalah pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan adalah imu. Ilmu adalah akumulasi atau proses pengumpulan pengetahuan yang menjelaskan kausalitas (hubungan sebab-akibat) dari suatu obyek menurut metode-metode tertentu yang merupakan suatu kesatuan sistematis.
Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.
Setiap disiplin ilmu memiliki prinsipnya masing-masing dalam cara kerjanya. Dalam ilmu alam, objek yang dikaji adalah benda mati yang mana pengamatannya bisa dilakukan berulang-ulang dan kebenarannya bisa dilihat pada sebuah penelitian yang dilakukan. Berbeda dengan ilmu sosial humaniora, karena objek yang dikaji adalah manusia yang mana bisa berubah-ubah dalam setiap waktunya, sehingga kebenarannya tidak hanya bisa dilihat dari sebuah pengamatan, karena manusia sendiri sebagai objek kajian dalam ilmu sosial humaniora sehingga hasil pengamatannya pun menghasilkan beberapa hasil yang bervariasi. Berbeda pula dengan ilmu agama, yang dikaji dalam ilmu agama adalah melihat dan memaknai apa yang ada dibalik kegiatan dan perilaku fisik dan empiris manusia beragama. Karena kegiatan tersebut adalah bentuk ekspresif dari keimanan mereka pada Tuhan. Oleh karena itu, hasil pengamatannya sulit untuk dipastikan.

B.     DAFTAR PUSTAKA

1.      Soetriono & SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, C.V Andi Offset (penerbit andi) Yogyakarta. 2007.
2.      Ermi Suhasti, Pengantar Filsafat Ilmu, Cet.1, Yogyakarta : Prajnya Media, Januari 2012.
3.      Bachri Ghazali, dkk, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta : pokja akademik uin sunan kalijaga, 2005).



[1] Soetriono & SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, C.V Andi Offset (penerbit andi) Yogyakarta. 2007. Hlm.140.
[2]  Ibid, hlm.12.
[3]  Bachri Ghazali, dkk, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta : pokja akademik uin sunan kalijaga, 2005), Hlm. 57.
[4] Ermi Suhasti, Pengantar Filsafat Ilmu, Cet.1, Yogyakarta : Prajnya Media, Januari 2012. Hlm. 114.

[5] Ibid, hlm. 116.
[6]  Ibid, hlm.120.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar